<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Sp - Pendidikan Dokter</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/25881</link>
<description>Koleksi skripsi ringkas dalam format artikel Pendidikan Dokter</description>
<pubDate>Sat, 04 Apr 2026 16:35:34 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-04T16:35:34Z</dc:date>
<item>
<title>Hubungan Tingkat Pengetahuan Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Persepsi Pencegahan Komplikasi Katarak Diabetik pada Orang Dewasa di Kelurahan Cimayang Kabupaten Bogor</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/29921</link>
<description>Hubungan Tingkat Pengetahuan Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Persepsi Pencegahan Komplikasi Katarak Diabetik pada Orang Dewasa di Kelurahan Cimayang Kabupaten Bogor
Abstract. Diabetes mellitus is one of disease that still towering in the world, caused by number prevalence of the disease keep increasing every year. According to WHO 2014, diabetes mellitus patient reach 422 milions people besides of the prevalence continues to grow, diabetes mellitus would be more difficult if complication occur. One of the possibility is Diabetic cataract that is included in microvascular complication. A person's knowledge of a disease can be the basis for one's perception of choosing a disease prevention plan. The purpose of this study was to describe the relationship between the level of knowledge about type 2 diabetes mellitus and Perception of prevention Diabetic Cataract. This research uses the Analytic method with the cross-sectional approach. The subjects of this study were adults in the Cimayang Village, Bogor Regency, taken from 40 people and the sample used the simple random sampling method. The data of this research were obtained using a questionnaire for the level of knowledge of type 2 diabetes mellitus and a questionnaire on the Perception of Cataract Complications Prevention in the form of google. Data analysis used the Chi-square test. The result of study Adult showed a high of knowledge were 37 person and positive Perception of prevalention Diabetic cataract complication 35 patient with p-value is p =0,036. The conclusion shows there is relationship between the level of type 2 diabetes mellitus knowledge and Perception of prevention Diabetic CataractKey words: Diabetic Cataract, Type 2 Diabetes Mellitus, Prevention, Perception, level of knowledgeAbstrak. Diabetes melitus masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia disebabkan angka prevalensi DM yang terus meningkat. Menurut data WHO 2014, penderita DM saat ini mengalami peningkatan menjadi 422 juta jiwa. Prevalensi DM yang semakin meningkat diperparah dengan meningkatnya komplikasi Katarak Diabetik yang termasuk ke dalam komplikasi mikrovaskuler. Pengetahuan Seseorang terhadap suatu penyakit, dapat menjadi dasar persepsi seseorang memiliih perencanaan pencegahan penyakit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan diabetes melitus tipe 2 dengan Persepsi terhadap Pencegahan Komplikasi katarak pada Orang dewasa. Metode penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah Orang dewasa di Kelurahan Cimayang Kabupaten Bogor yang berjumlah 40 orang dan sampel tersebut diambil dengan menggunakan metode simple random sampling. Data penelitian ini di peroleh menggunakan Kuesioner tingkat pengetahuan DM tipe 2 dan Kuesioner Persepsi Pencegahan Komplikasi Katarak dalam bentuk google form. Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian yang diperoleh Pada Orang Dewasa yang terbanyak adalah memiliki pengetahuan yang baik tentang DM tipe 2 sebanyak 37 orang dan Persepsi positif pencegahan komplikasi Katarak Diabetik sebanyak 35 orang dengan nilai p=0,036. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat adanya hubungan antara tingkat pengetahuan DM tipe 2 dengan Persepsi Pencegahan Komplikasi Katarak Diabetik.Kata kunci: Diabetes melitus Tipe 2, Pencegahan, Persepsi, Katarak Diabetik, Tingkat Pengetahuan
</description>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/29921</guid>
</item>
<item>
<title>Scoping Review: Hubungan Intensitas dan Lama Paparan Bising dengan Gangguan Pendengaran Akibat Bising pada Pekerja Tekstil</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/29918</link>
<description>Scoping Review: Hubungan Intensitas dan Lama Paparan Bising dengan Gangguan Pendengaran Akibat Bising pada Pekerja Tekstil
Abstract. Noise induced hearing loss is reducing in hearing function due to noise exposure fot long period. Exposure to noise can be a hazard to the hearing function for workers. Noise in the textile industry is generated in all processes, but the highest noise is in the weaving section. The purpose of this study was to analyze the effect of exposure to noise and length of exposure to hearing loss due to noise in textile workers. The research method is a scoping review of 6 national and international journals that meet the eligibility criteria. The results of this study were taken from the PubMed, ProQuest, Science Direct, SpringerLink and Google Scholar. The results are showed that hearing loss due to noise in textile workers with exposure to noise intensity&gt; 85 dB for&gt; 8 hours / day and length of work&gt; 9 years. a person exposed to high intensity noise and for a long time, can cause the collapse of stereocilia and hair cells, causing permanent damage to hearing function. When the outer hair cells are not functioning, large stimulation or high frequency sound will initiate nerve impulses, so that the sensitivity threshold of the inner hair cells will increase and cause hearing loss.Keywords: Noise induced hearing loss, noise intensity, textileAbstrak. Gangguan pendengaran akibat bising merupakan kelainan pendengaran berupa penurunan fungsi pendengaran yang bersifat sensorineural akibat paparan bising yang cukup tinggi dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Paparan bising ini dapat menjadi bahaya terhadap fungsi pendengaran bagi pekerja. Kebisingan pada industri tekstil dihasilkan di semua proses, tetapi kebisingan tertinggi berada di bagian penenunan kain dari benang. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh paparan bising dan lama paparan terhadap gangguan pendengaran akibat bising pada pekerja tekstil. Metode penelitian adalah scoping review dari 6 jurnal nasional dan internasional yang memenuhi kriteria kelayakan. Hasil penelitian ini diambil dari database PubMed, ProQuest, Science Direct, SpringerLink dan Google Scholar. Hasil review penelitian menunjukkan bahwa gangguan pendengaran akibat bising pada pekerja tekstil dengan paparan intensitas bising &gt;85 dB selama &gt;8 jam/hari dan lama kerja &gt;9 tahun. seseorang terpapar bising dengan intensitas tinggi dan dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan kolaps pada stereosilia dan hair cells sehingga menimbulkan kerusakan permanen pada fungsi pendengaran. Ketika outer hair cells tidak berfungsi, maka stimulasi yang besar atau suara berfrekuensi tinggi akan menginisiasi impuls saraf, sehingga threshold sensitivitas dari inner hair cells akan meningkat dan menyebabkan hilangnya pendengaran.Kata Kunci: Gangguan pendengaran akibat bising, kebisingan, tekstil
</description>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/29918</guid>
</item>
<item>
<title>Scoping Review: Pengaruh Mendengarkan Musik Klasik terhadap Kemampuan Konsentrasi Mahasiswa</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/29917</link>
<description>Scoping Review: Pengaruh Mendengarkan Musik Klasik terhadap Kemampuan Konsentrasi Mahasiswa
Abstract. Concentration of mind has an important role in the learning-process and it is influenced by many things, one of which is sounds. Sound sources that can affect concentration abilities include sounds produced from music in terms of classical music. This study was aimed to determine the effect of listening to classical music on student’s concentration abilities. This research was conducted with scoping review method in which researchers analyzed 11 previous research articles published in 2010-2020 using the search engines Science Direct, PubMed, and Google Scholar and were of the original research articles with undergraduate student research subjects. This study will be assessed by PICOS: Population (undergraduate students), Intervention (listening to classical music), Comparation (listening to other types of music and not given listening to music interventions), Outcome (mind concentrations are measured using measuring instruments, either directly or indirectly), Study (original research articles (RCT, quasi-experimental, qualitative descriptive, cohort, and case control)) to be determined as eligible criteria on PRISMA. The results showed that listening to classical music affects the student ability of mind concentration, with the tendency of students who listened to classical music had higher concentration of mind abilities due to a decrease in brain waves to alpha waves as well as stimulate the release of endorphins and serotonin.Keywords: classical music, mind concentration, undergraduate student.Abstrak. Konsentrasi memiliki peran penting terhadap proses belajar dan dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah suara. Sumber suara yang dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi diantaranya suara yang dihasilkan dari musik. Terdapat berbagai macam jenis musik salah satunya adalah musik klasik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mendengarkan musik klasik terhadap kemampuan konsentrasi mahasiswa. Penelitian ini dilakukan dengan metode scoping review dimana peneliti menganalisis 11 artikel penelitian terdahulu yang diterbitkan pada tahun 2010-2020 menggunakan mesin pencarian Science Direct, Pubmed, dan Google Scholar dan bertipe original research articles (RCT, kuasi eksperimental, deskriptif kualitatif, cohort, dan case control) dengan subjek penelitian mahasiswa tahap sarjana. Penelitian ini akan dinilai secara PICOS: Population (mahasiswa tahap sarjana), Intervention (mendengarkan musik klasik), Comparation (mendengarkan musik jenis lain dan tidak diberikan intervensi mendengarkan musik), Outcome (konsentrasi yang diukur dengan menggunakan alat ukur baik mengukur konsentrasi secara langsung maupun tidak langsung), Study (original research articles (RCT, clinical trial, kuasi eksperimental, deskriptif kualitatif, cohort, dan case control)) untuk ditentukan sebagai kriteria Elegible pada PRISMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh mendengarkan musik klasik terhadap konsentrasi mahasiswa, dengan kecenderungan mahasiswa yang mendengarkan musik klasik mengalami peningkatan konsentrasi akibat adanya penurunan gelombang otak menjadi gelombang alfa, serta merangsang pelepasan endorfin dan serotonin.Kata kunci : konsentrasi, mahasiswa, musik klasik.
</description>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/29917</guid>
</item>
<item>
<title>Scoping Review: Peran Terapi Sulih Hormon terhadap Gejala dan Tanda Perimenopause</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/29916</link>
<description>Scoping Review: Peran Terapi Sulih Hormon terhadap Gejala dan Tanda Perimenopause
Abstract. Perimenopause is a period of transition from the reproductive phase to the old age phase (senium) due to decreased sexual function of the ovaries. Conditions that arise in perimenopausal women are associated with a decrease in the hormone estrogen. The International Menopause Society (IMS) recommends the use of Hormone Replacement Therapy (TSH) to treat the symptoms and signs of perimenopause. The aim of this scoping review is to understand the effect of giving the role of hormone replacement therapy on changes in symptoms and signs of perimenopause. This research is a Scoping Review, by searching for articles from the Pubmed database, Springer Link, and Science Direct. The number of articles that matched the inclusion criteria was 449 and the exclusion criteria were 443 articles. Overall results based on the PICOS criteria were 6 articles. This study was conducted in the period March-December 2020. The results of the analysis of six articles, 2 articles stated that the combination of estrogen and placebo had no effect on signs of perimenopause. 3 articles stated that giving combined estrogen, conjugated estrogen, and progesterone can reduce symptoms of perimenopause. 1 article using the hormone therapy estrogen or without progesterone can increase the symptoms of perimenopause in the form of sleep problems. The conclusion of the analysis carried out in this study is that administration of low doses of oral conjugated estrogen combined with transdermal estradiol and progesterone can relieve symptoms of perimenopause, whereas combined estrogen and placebo have no effect on signs of perimenopause.Keywords: Symptoms, signs, perimenopause, hormone replacement therapyAbstrak. Perimenopause merupakan periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase usia tua (senium) akibat menurunnya fungsi generatif dari ovarium. Kondisi yang muncul pada wanita perimenopause berkaitan dengan penurunan hormon estrogen. Internasional Menopause Society (IMS) merekomendasikan penggunaan Terapi Sulih Hormon (TSH) untuk menangani gejala dan tanda perimenopause. Tujuan dari scoping review ini adalah untuk memahami pengaruh pemberian peran terapi sulih hormon terhadap perubahan gejala dan tanda perimenopause. Penelitian ini merupakan Scoping Review, dengan mencari artikel dari database Pubmed, Springer Link, dan Science Direct. Artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 449 dan kriteria eksklusi 443 artikel. Hasil secara keseluruhan berdasarkan kriteria PICOS terdapat sebanyak 6 artikel.  Penelitian ini dilakukan pada periode Maret–Desember 2020. Hasil analisis enam artikel terdapat, 2 artikel menyatakan pemberian estrogen kombinasi dan plasebo tidak memiliki efek terhadap tanda perimenopause. 3 artikel menyatakan pemberian estrogen kombinasi, conjugated estrogen, dan progesteron dapat mengurangi gejala perimenopause. 1 artikel dengan pemberian hormone therapy estrogen atau tanpa progesteron dapat meningkatkan gejala perimenopause berupa masalah tidur. Kesimpulan dari analisis yang dilakukan penelitian ini adalah pemberian dengan dosis rendah oral conjugated estrogen yang dikombinasikan dengan transdermal estradiol dan progesteron dapat meredakan gejala perimenopause, sedangkan estrogen kombinasi dan plasebo tidak memiliki efek terhadap tanda perimenopause.Kata kunci: Gejala, tanda, perimenopause, terapi sulih hormon
</description>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/29916</guid>
</item>
</channel>
</rss>
